Kenapa Anak-Anak Kaya Cenderung Memiliki Masalah Kesehatan Mental, Berikut Penjelasannya

January 20, 2018

Naik jet pribadi, memakai jam rolex emas dan tinggal di rumah mewah cukup untuk membuat orang-orang cemburu pada anak muda yang memamerkan kehidupannya pada media sosial. Hidup mewah yang mereka jalani seolah tampak seperti mereka tidak peduli pada dunia. Namun, dibalik senyum dan kekayaan yang mereka miliki ada masalah perilaku, emosional dan sosial yang serius.

Anak-anak dari keluarga yang berpenghasilan rendah mungkin tidak bisa mendapatkan semua apa yang mereka inginkan tanpa harus bekerja keras terlebih dulu, tapi justru situasi seperti ini yang bisa mendidik mereka untuk bisa menghargai apa yang mereka punya.

Sebaliknya berbeda dengan kalangan anak-anak yang super kaya justru inilah mengapa kesehatan mental umum terjadi pada mereka. Berikut penyebab masalah mental yang mereka alami.

Masalah Yang Muncul Pada Anak-anak Orang Kaya

Anak-anak yang berasal dari orang tua yang kaya tidak akan kekurangan apapun berbeda dengan anak-anak dari keluarga yang berpenghasilan rendah, tapi justru itulah yang membuat mental anak-anak orang kaya menjadi lemah. Dalam pandangan masyarakat umum bahwa kekurangan itu hanya diukur dari segi materi, itu adalah sebuah kesalahan.

Bisa ditanyakan kepada kepala sekolah dari banyak sekolah termahal dan universitas yang paling terkenal, anda akan mendengar cerita yang sama bahwa kesehatan mental adalah masalah signifikan dan terus berkembang.

Banyak anak-anak orang kaya yang menderita karena mendapat tekanan dari orang tua yang telah merencanakan kehidupan mereka dari sejak lahir yang belum tentu sesuai dengan keinginan mereka. Sebagai akibatnya, mereka sering merasa tidak bahagia dan terisolasi serta beresiko menjadi depresi, kecemasan bahkan sampai menggunakan obat-obat terlarang yaitu narkoba.

Masalah Kesehatan Mental Yang Sering Diabaikan

Kesehatan mental remaja adalah salah satu masalah medis yang paling diabaikan saat ini. Pada kenyataannya populasi masalah psikologis remaja lebih tinggi dibandingkan populasi masalah kesehatan fisik seperti diabetes, dan asma.

Para peneliti juga telah menemukan bahwa naiknya tingkat menyakiti diri, neurotik, kesehatan mental dan gangguan makan pada kalangan remaja kaya. Jika tidak diobati secara cepat dan efektif, maka akan menyebabkan penyakit yang serius.

Profesor psikologi Amerika Suniya Luthar, mencatat bahwa remaja yang memiliki orang tua berpenghasilan lebih dari satu milyar pertahun cenderung menderita penyakit mental yang parah. Hal ini terjadi karena kurangnya arahan dan tekanan sosial untuk harus menjadi berhasil, serta harapan yang tidak realistis yang ditujukan kepada mereka. Melakukan apapun yang mereka inginkan tanpa bimbingan yang tepat akan membuat mereka rentan terhadap keputusan yang salah dalam kehidupan.

Kebutuhan Akan Cinta Dan Kasih Sayang

Dalam keluarga yang sukses, orang tua melupakan kebutuhan emosional terhadap anak-anaknya. Mereka menganggap dengan hanya memberikan anak-anak mereka gadget terbaru, perhiasan, atau mobil sport itu sudah cukup membuat mereka bahagia. Namun barang-barang mewah itu tidak akan pernah bisa menggantikan waktu berkualitas antara anak dan orang tua serta cinta dan kasih sayang.

Hasilnya, ketika orang tua sibuk maka Anak-anak tersebut berpaling ke media sosial untuk mendapatkan perhatian yang mereka butuhkan. Mereka menampilkan gaya hidup mewah yang mereka jalani tanpa disadari itu membuat mereka menjadi seseorang yang terlihat tidak berempati.

Sangat sulit untuk orang yang memiliki kekayaan yang tak terbatas mengajari anak-anak mereka untuk hidup sederhana karena mereka bergantung pada uang untuk berfoya-foya dan untuk kepuasan. Bagi mereka, hidup adalah bagaimana tentang merayakan pesta besar dan membeli apapun yang mereka inginkan.

Hubungan Antara Orangtua Dan Uang

Para ahli mengungkapkan bahwa remaja yang terus menerus merasa bahwa orangtua mereka menghargai keberhasilan karir dan prestasi daripada kebaikan dan kesopanan pribadi, mereka cenderung untuk menunjukan gejala kecemasan dan depresi pada usia dini. Anak-anak ini mungkin merasa gagal karena ayah dan ibu mereka hanya mendorong mereka untuk sukses dalam hidup untuk menghasilkan uang.

Keuntungan materi yang dikombinasikan orangtua akan mengakibatkan tekanan pada anak seperti sengsara, bingung dan putus asa. Walaupun anak-anak ini terlihat istimewa di hadapan orang lain, tapi mungkin mereka akan membenci dirinya sendiri disaat tidak mampu memenuhi harapan orangtua. Para ahli menyarankan kepada orangtua untuk tidak berfokus hanya pada uang saja dan mencoba untuk berempati pada kegiatan anak sehari-hari.

Untuk Mengatasinya Beri Kebebasan Pada Anak

Para ahli mendorong orangtua untuk berkomunikasi dengan anak-anak mereka dan bertanya tentang bagaimana dengan hari mereka serta apa yang mereka rasakan. Ketika orangtua memberi waktu yang cukup untuk anak-anak mereka, maka akan terjadi perubahan besar dalam hidup mereka dan terus pastikan mereka mendapatkan bimbingan yang dibutuhkan.

Pada saat yang sama, anak-anak harus belajar bagaimana menghadapi situasi sulit tanpa meminta bantuan orang lain, untuk bisa memperkuat keterampilan mereka dalam mengatasi dan memperoleh jalan keluar atas masalah yang mereka alami. Ketika anak-anak memiliki keterampilan ini mereka dapat mengembangkan rasa yang kuat tentang siapa diri mereka sebenarnya dan dapat membedakan mana yang benar dan salah.

Memaksa mereka untuk menjalani bisnis keluarga bukanlah ide yang baik. Sebaliknya, orangtua disarankan untuk membiarkan anak-anak mereka menjadi apa yang mereka inginkan dan hargai apapun keputusan dan pilihan mereka. Orangtua memiliki peran yang penting dalam mengurangi tekanan mental pada anak.