Sejarah Dan Perjalanan Panjang Menjadi Seorang Geisha

January 25, 2018

Kulit seputih kertas, bibir berwarna merah, kimono sutra yang bagus dan rambut berwarna hitam legam, geisha adalah salah satu ikon yang terkait dengan “negeri matahari terbit” Jepang. Geisha adalah wanita tradisional Jepang yang dilatih memiliki banyak keahlian melakukan berbagai kesenian jepang, seperti musik klasik dan tarian tradisional.

Menghibur pelanggan pria maupun wanita dengan percakapan dan permainan. Juga termasuk menampilkan puisi dan berbagai pertunjukan. Peran geisha dalam kebudayaan Jepang telah berkembang selama ratusan tahun untuk sampai pada status ikon budaya yang dapat dikenal sampai saat ini. Nama lain untuk geisha adalah Geiko, yang diartikan secara khusus sebagai “perempuan seni”.

Asal-Usul Dan Munculnya Geisha Di Pra Modern Jepang

Percaya atau tidak, geisha pertama kalinya adalah seorang lelaki, muncul sekitar tahun 1730. Baru sekitar 20 tahun kemudian geisha perempuan mulai muncul dalam bentuk odoriko (penari) dan pemain shamisen. Mereka dengan cepat mengambil alih dan mulai mendominasi pada tahun 1780.

Peran asli geisha adalah sebagai asisten oiron, dan setiap pelacur kelas tinggi yang di bayar mahal di Jepang tinggal di tempat hiburan Edo, Kyoto dan kota-besar lainnya dizaman Edo (1603-1886). Sebagian pelacur takut geisha mencuri pelanggan mereka, peraturan pada saat itu melarang geisha membentuk hubungan pribadi dengan pelanggan. Bahkan, mereka tidak diizinkan duduk dekat tamu.

Efek Dari Perang Dan Kebingungan Istilah Geisha

Setelah beberapa dekade kemakmuran, geisha mulai merasakan efek setelah periode meiji (1868-1912) dan seterusnya, jumlah mereka mulai menurun terutama saat mendekati perang dunia ke II. Penurunan dramatis terhadap sumber daya saat hanamachi hancur dimana geisha bekerja. Bahkan setelah perang berakhir, hanya sedikit tempat yang dibuka kembali, dan sulitnya menemukan mereka bahkan ada peraturan yang lebih ketat pasca perang.

Selama perang, sejumlah besar tentara AS yang ditempatkan di Jepang dan untuk pertama kali bagi mereka berinteraksi dengan budaya jepang yang menyebabkan berbagai kesalahpahaman. Salah satunya, adalah perempuan geisha, kesalahpahaman Amerika yang menyamakan pekerja perempuan di Jepang seperti pelacur dengan geisha, padahal bukan seperti itu yang sebenarnya.

Alasan untuk kebingungan ini adalah bahwa selama bertahun-tahun setelah perang, beberapa wanita dari industri seks akan berpakaian dan mengaku sebagai geisha hanya untuk menarik perhatian orang barat, meskipun tidak menjalani pelatihan ketat yang harus diselesaikan oleh geisha sejati.

Ini menyebabkan kebingungan tentang peran geisha di masyarakat Jepang, bahwa banyak yang keliru geisha sering bekerja sebagai pelacur, sedangkan itu sangat jauh dari kebenaran yang terjadi.

Bagaimana menjadi seorang geisha? Ternyata, melewati proses yang panjang dan sulit, seperti mengambil sekolah kedokteran. Berikut penelusuran dan melihat beberapa langkah yang penting.

Masuk Ke Okiya

Sebagian besar, proses dimulai sekitar usia 14 atau 15 tahun, ketika gadis-gadis muda mulai masuk sekolah yang mengkhususkan dalam pelatihan geisha. Murid baru akan tinggal di sebuah tempat yang dikenal sebagai okiya yaitu jenis rumah penginapan laki-laki, dan pemiliknya dipanggil dengan sebutan okasan yang berarti ibu, juga dihuni oleh murid-murid lainnya.

Okiya dan Ochaya (rumah teh) dimana geisha akan bekerja dikedua tempat tersebut terletak di hanamachi, yang secara eksklusif dikhususkan hanya untuk para geisha.

Di okiya, okasan adalah orang yang akan membayar biaya murid baru. Termasuk pakaian, instrumen, makanan, perumahan, dan pelatihan yang berarti bahwa murid baru akan berutang dalam jumlah yang sangat besar bahkan sebelum mendapatkan pekerjaan.

Geisha pasti akan bekerja setelah menyelesaikan masa pelatihan, hanya untuk membayar utang kepada okiya. Selain itu, dia akan tetap terikat kontrak sampai dia dapat mengembalikan semua utangnya, lalu dia boleh memilih hidup mandiri seperti yang dia inginkan.

Masuk Periode Pelatihan Shikomi

Murid baru diterima terlebih dahulu masuk melalui periode pelatihan, yang dikenal sebagai shikomi san. Selama waktu ini, dia akan menghadiri kelas, melakukan tugas-tugas untuk membantu menjaga okiya dan juga berfungsi sebagai asisten untuk geisha lainnya. Biasanya, pelatihan ini akan memakan waktu pelatihan sekitar 4 tahun.

Murid baru juga mulai menghadiri nyokoba, sekolah kejuruan untuk pelatihan geisha sehingga mereka bisa belajar berbagai jenis seni pertunjukan tradisional Jepang untuk menghibur tamu-tamu mereka.

Ini mencakup berbagai alat musik, seperti kotsuzumi (drum kecil yang diletakkan di bahu lalu dimainkan dengan tangan), shimedaiko (drum kecil berdiri yang dimainkan dengan tongkat), shamisen (alat musik dawai yang memiliki tiga senar dan dipetik menggunakan sejenis pick yang disebut bachi) dan fue (seruling terbuat dari satu bagian dari bambu).

Di luar kelas banyak waktu dihabiskan hanya untuk belajar bagaimana bersikap yang pantas dari seorang geisha, termasuk bagaimana berbicara kepada para tamu dan sesepuh.

Masuk Panggung Minarai Dan Menemukan Mentor Geisha

Selama periode ini, murid baru disebut minarai (belajar dengan menonton). Dia harus menemukan mentor geiko (nama lain dari geisha), yang menurutnya onesan (kakak) yang dapat menyertainya untuk Ozashiki (lesehan, pesta perjamuan di kamar tatami tradisional) sehingga dia dapat mengamati bagaimana mentornya dan geisha lain berinteraksi dengan para tamu.

Dengan cara ini, setelah murid baru selesai pelatihan formal, dia akan memiliki beberapa pengalaman yang sebenarnya dan mengetahui mana klien yang potensional.

Murid baru akan memakai pakaian minarai yang mirip, tapi tidak sepenuhnya identik dengan maiko. Para murid baru geisha yang telah memiliki debut resminya maka penampilannya paling mirip dengan citra khas geisha. Termasuk make up wajah putih dan pakaian berwarna-warni. Namun, minarai memakai obi setengah panjang (ikat) yang disebut obi han-dara.

Periode pelatihan minarai akan mulai sebelum debut resmi murid baru, tapi bahkan setelah dia memiliki debut resmipun, dia tetap terus belajar melakukan pengamatan dan menghadiri acara dengan mentornya dan juga melanjutkan pelatihan di seni klasik di nyokobo.

Menyelesaikan Upacara Misedashi Dan Menjadi Maiko

Setelah menyelesaikan periode shikomi dan kira-kira sebulan menjadi minarai, geisha muda dalam pelatihan akan mendapatkan debut resminya, yang disebut misedashi (upacara seorang shikomi menjadi seorang maiko dan secara resmi akan memulai karir).

Untuk upacara, murid baru akan memakai kuromontsuki (kimono hitam istimewa) dan tiga riasan putih pucat di bagian belakang lehernya, dua kanzashi (jepit rambut) yang disebut ogi berbentuk kipas perak spesial dan sepasang hiasan rambut emas dan perak di bawah simpul atasnya yang disebut miokuri.

Pada hari upacara, tembok okiya akan dihiasi dengan kertas merah dan putih serta beberapa gambar keberuntungan. Didampingi para mentor, dia akan pergi di sekitar hanamachi dan mengunjungi berbagai guru tari dan rumah teh.

Selama upacara, murid baru akan melalui sebuah ritual yang dikenal sebagai sansankudo (pertukaran tiga kali tiga kali gelas yang juga dilakukan saat upacara pernikahan) dimana dia bertukar cangkir dengan mentornya, geiko lain dan senior maiko.

Setelah ini, murid baru secara resmi menjadi maiko. Sebuah panggung yang bisa bertahan bertahun-tahun sampai dia menyelesaikan latihan magangnya. Sebagai maiko, dia akan tampil seperti kebanyakan orang yang bergaul dengan geisha.

Dia akan menggunakan make up putih menonjol menutupi wajahnya dan memerahkan bibir ( kadang perlu waktu lebih dari 2 jam untuk menyelesaikannya). Memakai kimono berwarna cerah dengan ikat pinggang panjang yang rumit disebut darari obi, okobo (sepatu) tingginya yang hampir 10cm, dan juga jepit rambut besar.

Maiko juga akan mulai mengadopsi gaya rambut yang kebanyakan orang beranggapan bahwa mereka adalah geisha. Selama dua sampai tiga tahun pertama, maiko mengadopsi gaya rambut wareshinobu, yaitu disanggul dan dibuat dengan memasukkan dua kanako merah (sutra empuk).

Tidak seperti kebanyakan geiko yang telah menyelesaikan pelatihan, maiko menggunakan rambut asli bukan wig, dan daya tarik secara terus menerus yang diperlukan untuk mempertahankan gaya rambut dapat menyebabkan kebotakan ditengah. Selain itu, untuk mempertahankan gaya rambut, diperlukan pergi ke penata rambut setidaknya sekali seminggu.

Maiko harus tidur di takamakura, bantal yang dirancang khusus untuk menjaga bentuk rambut mereka, dan akan mendapatkan hukuman jika mereka gagal untuk melakukannya.

Setelah menyelesaikan pelatihan tahun ini, banyak geisha memiliki karir yang memuaskan dan terkenal sebagai penghibur dan orang yang paling ramah. Apakah anda memiliki rencana untuk mengunjungi dan melihat sendiri, serta merasakan keramahan mereka?